DIRI KITA

AKU ADALAH AKU – ‘EHEYEH ‘ASYER ‘EHEYEH Image ” אהיה אשר אהיה – ‘EHEYEH ‘ASYER ‘EHEYEH” dapat kita rujuk pada Keluaran 3:14. Nama ”

אהיה – ‘EHEYEH” adalah nama-Nya yang pertama kali diucapkan kepada Musa. Selengkapnya demikian : * Keluaran 3:13 LAI-TB, Lalu Musa berkata kepada Allah: “Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya? -apakah yang harus kujawab kepada mereka?” Perhatikan bagaimana pertanyaan Musa, “Bagaimana tentang nama-Nya?”, ” מה־שמו – MAH-SYEMO”. * Keluaran 3:14 LAI TB, Firman Allah kepada Musa: AKU ADALAH AKU Lagi firman-Nya: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.” Translit interlinear, VAYO’MER {dan Dia berfirman} ‘ELOHIM {Allah} ‘EL-MOSYEH {kepada Musa} ‘EHEYEH {Aku akan ada} ‘ASYER {yang} ‘EHEYEH {Aku akan ada} VAYO’MER {dan Dia berfirman} KOH {demikian} TO’MAR {engkau harus berkata} LIVENEY {kepada anak-anak} YISERA’EL {Israel} ‘EHEYEH {Aku akan ada} SYELAKHANI {mengutus aku} ‘ALEYKHEM {ke atas kalian} Kata ” אהיה – ‘EHEYEH” adalah kata kerja dalam bentuk Qal Imperfect dari kata ” היה – HAYAH” , hê’-yõd-hê’. Stem Qal yang berarti “ringan” merupakan kata kerja aktif sederhana, belakangan istilah Qal lebih dikenal dengan istilah pâ’al. Dalam anggapan orang Ibrani tempo doeloe, suatu tindakan senantiasa dikenal dengan dua cara: selesai atau tidak selesai. Oleh karena itu, sebenarnya tidak ada ‘past tense’ (waktu lampau), ‘present tense’ (waktu sekarang), atau ‘future tense’ (waktu yang akan datang). Yang ada hanyalah ‘perfect’ (selesai) dan ‘imperfect’ (belum/tidak selesai, belum/tidak rampung). Belakangan, sesuai dengan perkembangan budaya dan bahasa, maka timbul aturan tentang Present Tense, Past Tense, dan Future Tense. Past Tense merujuk kepada Perfect-nya Ibrani. Present Tense menggunakan partisip aktif dengan perubahan vokal, dan Future Tense adalah Imperfect-Nya Ibrani tempo doeloe. Bentuk paling sederhana dari sebagian besar verba Ibrani sebagaimana tercantum dalam kamus adalah Qal Perfect untuk orang ketiga tunggal maskulin (“dia”), misalnya kata ” היה – HAYAH”, yang berarti “dia (dulu) ada”. Qal Perfect orang ketiga tunggal maskulin pada umumnya terdiri atas tiga konsonan plus dua vokal. Misalnya: ‘âkal, ‘âlef – kaf – lâmed, dia (dulu) makan ‘âmar, ‘âlef – mem – resy, dia (dulu) berkata yâsyav, yõd – syin – bêyt, dia (dulu) duduk ‘âsâh, ‘âlef, sin – hê, dia (dulu) membuat Kata ” היה – HAYAH” yang Qal Perfect untuk orang ketiga maskulin itu berubah menurut pronomina dan gender, misalnya: hâyïtï, aku (dulu) ada hâyite, engkau (dulu) ada, feminin hâyita, engkau (dulu) ada, maskulin hâyetâh, dia (dulu) ada, feminin hâyâh, dia (dulu) ada, maskulin Sebaliknya, Qal Imperfect atau kata kerja sederhana yang belum selesai dibentuk dari kata kerja dasar dengan menambah awalan (prefiks) dan akhiran (suffiks) tertentu. Lebih lanjut tentang makna “היה – HAYAH” Terhadap pertanyaan Musa dalam Exodus 3:13 , TUHAN Allah menjawab di Exodus 3:14, bahwa nama-Nya adalah: “AKU ADALAH AKU”, yang dalam bahasa aslinya berbunyi: “‘EHEYEH ‘ASYER ‘EHEYEH”.

Seperti dijelaskan diatas, kata ‘EHEYEH, yang berarti “Aku akan ada” berasal dari kata ” היה – HAYAH”. Kata HAYAH ini, yang menurut para ahli mewujudkan rangkuman dari kata-kata: berada, menjadi dan bekerja (to be, to become dan to work) . Yang harus diperhatikan ialah, bahwa di sini nama Tuhan Allah diungkapkan dengan bentuk kata-kerja, kata yang hidup, bukan dengan kata-nama-benda, kata yang mati. Hal ini menunjukkan, bahwa dengan demikian Tuhan Allah bagi Israel bukanlah Tuhan Allah yang tidak bergerak, bukanlah Tuhan Allah yang mati, melainkan Tuhan Allah yang hidup, yang bekerja, yang penuh dengan dinamika. Oleh karena itu maka, menurut beberapa ahli, secara bebas ungkapan ini dapat diterjemahkan dengan, “Aku akan hadir, berbuat”, atau “Aku akan hadir dengan berbuat”. Pokoknya, kehadiran Tuhan Allah bagi Israel bukan seperti kehadiran barang yang mati (meja, kursi, dan sebagainya), melainkan suatu kehadiran yang di dalam perbuatan-Nya, Israel akan mengenal Tuhan Allah dari perbuatan-perbuatan atau karya-karya Tuhan Allah, yang ditujukan kepada kepentingan Israel. Hal itu memang terbukti di dalam sejarah umat Israel. Di sepanjang sejarah umat ini dapat dilacak bagaimana Tuhan Allah telah menyatakan atau memperkenalkan diri-Nya dengan karya-karya-Nya. Pertama-tama Tuhan Allah memperkenalkan diri kepada Israel dengan menampakkan diri dalam tanda-tanda yang menjadikan Israel tahu bahwa Tuhan Allah hadir. Penampakan ini di dalam bahasa Yunani disebut theophani. Di sini TUHAN Allah menampakkan diri dengan tanda-tanda yang dapat dihayati oleh Israel, sehingga Israel sadar bahwa mereka berhadapan dengan TUHAN Allah sendiri. Umpamanya, Tuhan Allah menampakkan diri-Nya kepada Musa dalam nyala api yang keluar dari semak duri, TUHAN Allah menampakkan diri kepada Israel di dalam tiang awan, dalam awan yang padat yang disertai guruh dan kilat di atas gunung Sinai, di dalam kemuliaan-Nya yang melalui Musa, menampakkan diri kepada Gideon sebagai malaikat TUHAN, dan seterusnya. —— Nama TUHAN tidak boleh diterjemahkan (?) Ada pendapat yang mengatakan bahwa “nama” tidak boleh diterjemahkan, oleh karena itu sebaiknya pula “nama” Allah menurut Keluaran 3:14 pun tidak diterjemahkan sehingga menjadi: “Firman Allah kepada Musa: “‘EHEYEH ‘ASYER ‘EHEYEH” Lagi firman-Nya: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: “‘EHEYEH” telah mengutus aku kepadamu.” Selanjutnya “nama” Allah ini masih kita temukan dalam ayat-ayat lain, dan untuk mengkaji-nya, “nama” itu sengaja tidak diterjemahkan :


Asal-usul Allah: Tinjauan dari Bahasa Arab

Kalau dr. Suradi mula-mula, — sebagaimana banyak artikel-artikel polemik Kristen terbitan Amerika, — menyangkal sama sekali bahwa istilah Allah cognate dengan El, Eloah, Elohim (Ibrani) dan Elah, Alaha (Aram/Suryani), kini para penerusnya mencoba memisahkan antara kata-kata ilah (sembahan), alihat, (sembahan-sembahan) dan al-Ilah (sembahan itu, sembahan yang benar) yang se-rumpun dengan istilah el, eloah, elohim dengan Allah yang dianggapnya “nama dari dewa Arab yang mengairi bumi”. Allah, yang dianggapnya sebagai nama “dewa air”, dirujuknya dari artikel Wahyuni Nafis, dalam bunga rampai The Passing Over: Melintas Batas Agama, menjadi dasar penolakannya terhadap penggunaan kata Allah dalam Alkitab Kristen di Indonesia.

Untuk meneguhkan pembedaan antara ilah, alih-ah, dan al-Ilah dengan Allah, Teguh Hendarto lalu menyangkal bahwa istilah Allah berasal dari al-Ilah (Bahana, Maret 2001). Menurut argumentasinya yang sangat awam mengenai bahasa Arab, ia menulis kalau al-Ilah dapat disingkat menjadi Allah, mengapa Alkitab tidak menjadi Altab? Untuk itu saya harus menjelaskannya secara sabar, karena mungkin ia tidak bisa membaca sepotongpun huruf Arab, meski gayanya yang kelewat percaya diri seolah-olah mau menggurui saya.

Begini, pada prinsipnya sebuah kata dalam bahasa-bahasa semitik dibentuk dari akar kata (al-jidr) yang biasanya terdiri dari 3 konsonan. Akar kata itu bisa dipecah-pecah menjadi kata benda, kata sifat, kata kerja dan kata benda baru. Misalnya, kitab dari kata k-t-b. Dari akar kata ini, lalu dibentuklah menjadi banyak kata: kata benda, kata kerja, dan sebagainya. Dari akar kata k-t-b kita dapat menemukan kata-kata sebagai berikut: kitaab (buku), kaatib (penulis), maktabah (perpustakaan), maktub (tertulis, termaktub), uktub (tulislah!), dan seterusnya.

Sedangkan kata Ilah, al-Ilah terbentuk dari 3 akar kata hamzah, lam, haa (`-l-h). Dari akar kata ini, kita mengenal isltilah ilah, alihah, dan al-Ilah (atau bentuk singkatnya: Allah). Sebagai sesama bahasa rumpun semitis, bahasa Ibrani dan bahasa Aram mempunyai ciri yang sama. Saya juga pernah menulis, bahwa kata Ibrani Elah, Eloah berasal dari kata el (kuat) dan alah (sumpah). Al- dalam kata Allah berbeda dengan El (kuat) dalam bahasa Ibrani. Kata Ibrani El, sejajar dengan bahasa Arab Ilah, sedangkan kata sandang Al- yang mendahului Ilah sejajar dengan bahasa Ibrani ha-elohim (Raja-raja 18:39). Tetapi kasus penyingkatan al-Ilah menjadi Allah hanya terjadi dalam bahasa Arab, tidak terjadi dalam bahasa Ibrani atau Aram.

Selanjutnya, memisahkan sebutan Allah dari Ilah, al-Ilah juga tidak bisa dipertahankan. Sebab ahli bahasa Arab, baik dari kalangan Islam maupun Kristen, juga banyak yang menganggap bahwa sebutan Allah itu musytaq atau dapat dilacak asal-usulnya dari kata lain. Jadi, tidak benar anggapan kaum penentang Allah itu yang mengatakan bahwa Allah tidak bisa diterjemahkan dalam bahasa-bahasa lain. Memang, ada penerjemah al-Qur’an yang berpandangan demikian, misalnya terjemahan Abdallah Yusuf Ali, The Meaning of The Holy Quran.

Jadi, tidak semua umat Islam berpandangan bahwa istilah Allah itu ghayr al-musytaq (tidak berasal dari kata lain, karena dianggap the proper name). Sama seperti kaum penentang Allah yang menganggap YHWH tidak bisa diterjemahkan, begitu juga di kalangan Islam ada yang berpandangan seperti itu. Pdt. Jacob Sulistiono mengutip majalah Islam Sabili, yang memuat tulisan seorang Muslim yang menganggap bahwa Allah itu tidak bisa diterjemahkan, tetapi itu tidak mewakili pendapat seluruh umat Islam di dunia. Bahkan di kalangan Islam sendiri, Sabili sering dianggap mewakili kelompok Islam garis keras, setali tiga uang dengan kaum penentang Allah, minimal dalam pandangan teologisnya yang sama-sama hitam putih itu.

Salah satu diantara terjemahan al-Qur’an dalam bahasa Inggris yang menerjemahkan istilah Allah, misalnya silahkan membaca: The Massage of the Qur’an, oleh Muhammad Asad. Dalam terjemahan yang cukup otoritatif di dunia Islam Barat ini, ungkapan: Bismillahi Rahmani Rahim diterjemahkan: “In the Name of God, The Most Grocious, The Dispenser of Grace”.

Memang, Sabili dalam salah satu terbitannya pernah menguraikan bahwa secara etimologis, kata Allah yang terdiri dari huruf alif, lam, lam dan ha’ dengan tasydid sebagai tanda idgham lam pertama pada lam kedua) adalah ghairu musytaq (tidak ada asal katanya dan bukan pecahan dari kata lain). Karena itu, kata ini tidak bisa diubah menjadi bentuk tatsniyah (ganda) dan jama’ (plural). Demikian pula kata ini tidak dapat dijadikan sebagai mudhaf. Jacob Sulistiono mengutip ini, saya yakin ia sendiri tidak mengerti apa itu bentuk mutsanah, jama’ atau mudhaf dalam bahasa Arab.

Harus saya jelaskan sekali lagi, padangan Sabili sama sekali tidak bisa dianggap representatif mewakili Islam. Banyak ulama Islam terkemuka yang berpandangan sebaliknya. Contohnya, kita bisa membaca kitab yang sangat terkenal di dunia Arab, al-Mu’jam al-Mufahras, yang menempatkan kata Allah tersebut di bawah heading (judul): hamzah, lam, haa ( `-l-h). Mengapa? Karena Al- pada Allah adalah hamzah wasl, sehingga Al- bisa hilang dalam kata: wallahi, bi-lahi, lil-lahi, dan sebagainya. Misalnya, pada kalimat Alhamdu lil-lah (segala puji bagi Allah), lil-lahi ta’ala (karena Allah Yang Maha Tinggi), kata sandang Al- di depan Allah juga dihilangkan.

Sedangkan kata Allah tidak bisa dijumpai dalam bentuk ganda dan jamak, secara historis dibuktikan karena kata sandang al- yang mendahului kata ilah, muncul untuk menegaskan: ilah itu, yang sudah mengandung makna pengkhususan. Maksudnya, bisa berarti Dia adalah ilah yang paling besar, sedangkan ilah-ilah lain berada di bawahnya, seperti dianut kaum Mekkah pra-Islam, seiring dengan pergeseran dari paham politeisme menuju henoteisme. Sebaliknya, bisa juga berarti “ilah satu-satunya, yang tidak ada ilah selain-Nya”. Makna kedua ini, antara lain diberikan oleh orang-orang Yahudi, Kristen, kaum Hanif pra-Islam di wilayah Arab untuk menegaskan Keesaan-Nya. Tradisi monoteisme inilah yang kemudian dilanjutkan oleh Islam.

Selanjutnya, kata Allah memang tidak dapat dijadikan mudhaf, tetapi itu tidak berarti bahwa Allah itu nama diri. Sebab bukan hanya nama diri yang tidak bisa dijadikan mudhaf, tetapi setiap bentuk ma’rifah juga tidak bisa dijadikan mudhaf. Misalnya, kita berkata: Baitu al-Kabiiri (Rumah yang besar itu). Kata baitu dalam kalimat ini adalah mudhaf, sedangkan al-kabiiri adalah mudhaf ilaih. Tetapi kalau kita tambahkan al- sebelum bait, misalnya: al-baitu kabiirun (Rumah itu besar). Jadi, maknanya berbeda. Mengapa? Karena al-bait disini menjadi mubtada’ (subyek), bukan mudhaf lagi, sedangkan kabiirun adalah khabar (predikat).

Metode “debat Kusir” dan “Logika Jungkir Balik” Penentang Allah

Saya sangat paham apabila LAI selama ini tidak pernah menggubris tuntutan kelompok sempalan ini, yang menuntut agar dalam Alkitab bahasa Indonesia dihilangkan kata Allah. Mengapa? Anda baru mengetahui alasannya, kalau anda mengikuti metode debat kusir dan logika jungkir balik mereka. Saya sekedar mengulang beberapa contoh:

Mula-mula mereka menuduh Allah itu “dewa air” berdasarkan beberapa rujukan yang mereka anggap mendukung, bahwa Allah pernah disembah bersama dewa-dewa kafir Mekkah pra-Islam. Tuduhan ini lalu saya tanggapi, Pertama: berdasarkan inkripsi-inskripsi Arab Kristen pra-Islam, yaitu Zabad (521 M) dan Umm al-Jimmal (pertengahan abad ke-6 M) bahwa Allah sudah dimaknai secara monoteistik Kristen, lengkap dengan foto-foto inskripsi, bacaannya, ulasan para ahli filologi, dan perkembangannya di gereja-gereja Arab setelah Islam hingga zaman kita sekarang; dan kedua: berdasarkan inskripsi Kirbeth el-Qom dan Kunlitet Ajrud, yang ditemukan di wilayah Hebron, YHWH pun juga pernah disembah bersama dewi kesuburan, Asyera.

Tanggapan saya ditanggapi balik. Pertama, bukti-bukti pemakaian Allah menurut inskripsi pra-Kristen itu, menurutnya tidak membuktikan keabsahan kata Allah, melainkan karena orang Arab Kristen tidak tahu asal-usulnya. Jadi, Hendarto sudah mempunyai praduga dulu, bahwa Allah itu “dewa air”, “dewa bulan”, “dewa matahari”, atau dewa apapun Allah itu, ia tidak perduli, yang penting kata itu harus ditolak. Ia tidak menyelidiki dulu, bahkan buku Roberts Morrey, yang lebih merupakan karya polemik yang sangat provokatif anti-Islam itu, disebutnya sebagai bukti archeologis?

Padahal, dalam buku ini tidak ada pembahasan arkheologis sama sekali, kecuali berbagai sumber bacaan yang dirangkai-rangkai tanpa penelitian mendalam. Juga buku Steppen van Natan, Allah: Divine or Demonic, yang lebih menyerupai traktat tersebut, bagaimana buku sampah begini bisa disejajarkan dengan hasil penelitian Prof. Littmann, misalnya, yang meneliti inkripsi-inskripsi Arab pra-Islam itu sangat mendalam, bahkan banyak ahli-ahli lain yang reputasinya tidak diragukan, yang telah menyerahkan hampir seluruh hidup mereka untuk penelitian ilmiah.

Jadi, mereka menolak kata Allah berdasarkan buku-buku para penginjil yang berangkat dari asumsi teologis hitam-putih dan sama sekali tidak mempunyai keahlian di bidang sejarah dan arkheologi. Tetapi ketika saya counter dengan bukti-bukti sejarah, dikatakannya “bahwa itu hanya statement manusia, yaitu orang Islam dan Kristen Arab, yang tidak korelasinya dengan Firman Tuhan dalam Alkitab”. Komentar ini, mungkin disebabkan karena saya tidak banyak main kutip ayat-ayat seperti mereka. Maksudnya, banyak ayat Alkitab mereka ajukan untuk mendukung anggapan mereka bahwa nama Yahwe tidak boleh diterjemahkan, sedangkan mereka mamahami nama ilahi itu sama seperti nama-nama makhluk-Nya. Untuk menunjukkan kedangkalan pemikiran mereka, silahkan baca artikel saya: “Nama YHWH: Harus Dipertahankan atau Boleh Diterjemahkan?”.

Kedua, kalau saya buktikan bahwa Yahwe juga pernah disembah bersama dengan dewi Asyera, dengan enteng ia mengatakan bahwa itu hasil sinkretisme di Israel pada zaman dahulu, tanpa secara fair juga menerapkan penilaian yang sama untuk kata Allah, bahwa istilah Arab ini juga diartikan secara salah oleh orang-orang Arab pra-Islam. Padahal bahasa itu netral, tergantung apa makna yang kita berikan. Inilah yang saya namakan motode debat kusir alias debat tukang dokar, dengan logika jungkir balik mereka itu.

Yang lebih menggelikan lagi, Teguh Hendarto mengkoreksi terjemahan Alkitab al-Muqaddas (Today’s Arabic Version), terbitan Dar al-Kitab al-Muqaddas fi al-Syarq al-Ausath, Beirut, yang saya kutip dalam makalah saya. Ungkapan Laa Ilaha illa Allah (Tidak ada Ilah kecuali Allah) yang tercatat dalam 1 Korintus 8:4, dengan gayanya yang menggurui, katanya terjemahan yang benar: Laa Ilaha al-Wahid. Ini bahasa Arab apa? Tidak ada artinya sama sekali, dan terang saja akan ditertawakan santri desa yang baru belajar Juzz Amma. Tetapi, ya itulah kualitas rata-rata kaum Penentang Allah itu. Semua ini saya ungkap di sini, karena gerakan mereka semakin gencar dan ngawur, seperti yang akan kita lihat di bawah ini.

Teguran Keras Mubaliq se-Indonesia: Provokasi Opo maneh iki, Rek?

Sama ngototnya dengan Hendarto, kita juga dikacau oleh Pdt. Jacob Sulistyono, seorang penganut sekte YHWH, yang lebih Yahudi ketimbang Yahudi sendiri, dalam perdebatannya di http://www.salib.net Banyak orang menduga, bahwa ia sendiri berada di belakang kasus “Surat Teguran Keras Mubaligh se-Indonesia”, yang tidak jelas juntrungannya itu. Menurutnya, Allah dalam Islam dan Yahwe dalam Kristen itu mutlak berbeda. “Umat Islam tidak suka orang Kristen menyebut Allah”, tulisnya, “karena ada istilah Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus, sedangkan Islam percaya bahwa Allah itu tdk bisa disamakan dengan apapun”. Hal ini sesuai dengan Al-Qur’an yang menyebutkan sebagai berikut:

Qul huwa llaahu ahad. Allahush shamad. Lam Yalid wa lam yulad. Wa Lam Yakun lahu kufuwwan ahad.

Artinya: “Katakanlah Dialah Allah Yang Esa. Allah, Dia adalah tempat bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya
(Q.s. al-Ikhlas 112/1–4).

Laqad kafar alladzina qaluu Innallaha huwa al-Masih ibn Maryam.

Artinya: “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: Sesungguhnya Allah itu ialah al-Masih Putra Maryam”
(Q.s. Al-Maaidah/5:17).

Dengan keterangan di atas, ia seolah-olah malah membenarkan bahwa Tuhan orang Kristen itu beranak dan diperanakkan. Padahal mestinya, sebagai orang yang mengaku pengikut Kristus, justru seharusnya ia menjelaskan kepada umat Islam bahwa istilah Putra Allah itu bukan dalam makna “beranak dan diperanakkan”, bukan malah membenarkannya, sekedar demi mendukung penolakannya atas istilah Allah. Q.s. al-Ikhlas ditujukan untuk menolak keyakinan pra-Islam di Mekkah, bahwa Allah mempunyai anak-anak perempuan, yaitu al-Latta, Uzza dan Manah.

Sedangkan Q.s. al-Maidah 17 lebih diarahkan kepada keyakinan semacam mujja-simah (antropomorfisme) bidat Kristen di Mekkah, yang menganggap bahwa Allah sama dengan tubuh kemanusiaan Yesus itu sendiri. Sudah barang tentu, keyakinan ganjil seperti ini juga tidak pernah dianut oleh orang Kristen manapun, baik itu gereja Katolik, gereja-gereja ortodoks dan reformasi Protestan sekarang ini.

Para ahli lain juga menghubungkan keyakinan yang diserang al-Qur’an itu dengan sekte bidat Kristen Maryamin (penyembah Maryam), yang memuja Maryam dan mengarak patungnya di sekeliling ka’bah serta mempersembahkan kepadanya collyrida (roti persembahan), sehingga disebut juga sekte Collyridianisme. Karena itu, tepatnya yang ditolak al-Qur’an adalah keyakinan pseudo-trinity yang terdiri: Allah, `Isa al-Masih dan Maryam (Q.s. an-Nisa’/4:171; al-Maidah/5: 73, 116), dan sema sekali tidak cocok diterapkan untuk keyakinan Kristen sebenarnya.

Sebelum saya tutup artikel ini dengan penjelasan singkat makna Putra Allah dalam Iman Kristen, perlu saya tanyakan mengenai tuntutan Mubaligh se-Indonesia? Lembaga ini kalau memang ada, mewakili siapa sehingga berani meng-claim dirinya seolah-olah seluruh umat Islam Indonesia? Ini sangat berbahaya bagi kerukanan umat beragama, apalagi kalau lembaga fiktif ini sengaja dibuat kelompok Kristen tertentu untuk meloloskan pandangan-pandangannya yang tidak ilmiah itu.

Makna term Putra Allah: Belajar Dari “bahasa teologis” Kristen Arab

Kalau begitu, apakah makna sebenarnya istilah Putra Allah dalam Iman Kristen? Harus ditegaskan, bahwa tidak ada umat Kristen yang pernah mempunyai sebersit pemikiran pun bahwa Allah secara fisik mempunyai anak, seperti keyakinan primitif orang-orang Mekkah pra-Islam tersebut. Saya ingin menjelaskan metafora ini berdasarkan teks-teks sumber Kristen Arab, supaya terbangun kesalingpahaman teologis Kristen-Islam di Indonesia. Sebab selama ini ada jarak yang cukup lebar secara kultural antara bahasa teologis Kristen Barat, yang memang tidak pernah bersentuhan dengan Islam, sehingga kesalahpahaman semakin berlarut-larut.

Istilah Putra Allah yang diterapkan bagi Yesus dalam Iman Kristen untuk menekankan praeksistensi-Nya sebagai Firman Allah yang kekal, seperti disebutkan dalam Injil Yohanes 1:1-3. Ungkapan “Pada mulanya adalah Firman”, untuk menekankan bahwa Firman Allah itu tidak berpermulaan, sama abadi dengan Allah karena Firman itu adalah Firman Allah sendiri.

Selanjutnya, “Firman itu bersama-sama Allah”, menekankan bahwa Firman itu berbeda dengan Allah. Allah adalah Esensi Ilahi (Arab: al-dzat, the essence), yang dikiaskan Sang Bapa, dan Firman menunjuk kepada “Pikiran Allah dan Sabda-Nya. Akal Ilahi sekaligus Sabda-Nya” (`aqlullah al-naatiqi, au natiqullah al-`aaqli, faahiya ta’na al-`aqlu wa al-naatiqu ma’an), demikianlah term-term teologis yang sering dijumpai dalam teks-teks Kristen Arab. Sedangkan penegasan “Firman itu adalah Allah”, menekankan bahwa Firman itu, sekalipun dibedakan dari Allah, tetapi tidak berdiri di luar Dzat Allah. Mengapa? “Tentu saja”, tulis Baba Shenuda III dalam bukunya Lahut al-Masih (Keilahian Kristus), “Pikiran Allah tidak akan dapat dipisahkan dari Allah ( `an `aqlu llahi laa yunfashilu `an Allah)”. Dengan penegasan bahwa Firman itu adalah Allah sendiri, makan keesaan Allah (tauhid) dipertahankan.

Ungkapan “Firman itu bersama-sama dengan Allah”, tetapi sekaligus “Firman itu adalah Allah”, bisa dibandingkan dengan kerumitan pergulatan pemikiran Ilmu Kalam dalam Islam, yang merumuskan hubungan antara Allah dan sifat-sifatnya: Ash Shifat laysat al-dzat wa laa hiya ghayruha (Sifat Allah tidak sama, tetapi juga tidak berbeda dengan Dzat Allah). Jadi, kata shifat dalam Ilmu Kalam Islam tidak hanya bermakna sifat dalam bahasa sehari-hari, melainkan mendekati makna hypostasis dalam bahasa teologis Kristen.

Dalam sumber-sumber Kristen Arab sebelum munculkan ilmu Kalam al-Asy’ari, hyposistasis sering diterjemahkan baik shifat maupun uqnum , “pribadi” (jamak: aqanim), asal saja dimaknai secara metafisik seperti maksud bapa-bapa gereja, bukan dalam makna psikologis. Sedangkan ousia diterjemahkan dzat, dan kadang-kadang jauhar. Istilah dzat dan shifat tersebut akhirnya dipentaskan kembali oleh kaum Suni dalam menghadapi kaum Mu’tazili yang menyangkal keabadian Kalam Allah (Al-Qur’an), sebagaimana gereja menghadapi bidat Arius yang menyangkal keabadian Yesus sebagai Firman Allah.

Kembali ke makna Putra Allah. Melalui Putra-Nya atau Firman-Nya itu Allah menciptakan segala sesuatu. “Segala seuatu diciptakan oleh Dia, dan tanpa Dia tidak sesuatupun yang jadi dari segala yang dijadikan” (Yohanes 1:3). Jelaslah bahwa mempertahankan keilahian Yesus dalam Iman Kristen, tidak berarti mempertuhankan kemanusiaan-Nya, apalagi dengan rumusan yang jelas-jelas keliru: “Sesungguhnya Allah adalah al-Masih Putra Maryam” (innallaha huwa al-masih ibn maryam).

Dalam rumusan ini, yang ditentang al-Qur’an adalah menyamakan kemanusiaan Yesus dengan Allah. Padahal yang kita dimaksudkan ketika mempertahankan keilahian Yesus, menunjuk kepada Firman yang kekal bersama-sama Allah, yang melalui-Nya alam semesta dan segala isinya ini telah diciptakan.

Dan karena sejak kekal Kristus adalah Akal Allah dan Sabda-Nya, maka jelaslah Firman itu adalah Allah. Karena Akal Allah berdiam dalam Allah sejak kekal (wa madaama al-Masih huwa `aql allah al-naatiqi, idzan faahuwa llah, lianna `aql allah ka’inu fii llahi mundzu azali). Dan karena itu pula, Firman itu bukan ciptaan (ghayr al-makhluq), karena setiap ciptaan pernah tidak ada sebelum diciptakan).

Secara logis, mustahillah kita membayangkan pernah ada waktu dimana Allah ada tanpa Firman-Nya, kemudian Allah menciptakan Firman itu untuk Diri-Nya sendiri. Bagaimana mungkin Allah ada tanpa Pikiran atau Firman-Nya? Kini kita memahami secara jelas ajaran Tritunggal Yang Mahaesa, bahwa Allah, Firman dan Roh-Nya adalah kekal, sedangkan Firman dan Roh Allah selalu berdiam dalam keesaan Dzat-Nya, berada sejak kekal dalam Allah).

Selanjutnya, istilah Putra Allah berarti “Allah mewahyukan Diri-Nya sendiri melalui Firman-Nya”. Allah itu transenden, tidak tampak, tidak terikat ruang dan waktu. “Tidak seorangpun melihat Allah”, tulis Rasul Yohanes dalam Yohanes 1:18, “tetapi Anak Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa Dialah yang menyatakan-Nya”. Inilah makna tajjasad (inkarnasi). “Dengan inkarnasi Firman-Nya”, tulis Baba Shenouda III, “kita melihat Allah. Tidak seorangpun melihat Allah dalam wujud ilahi-Nya yang kekal, tetapi dengan nuzulnya Firman Allah, kita melihat pewahyuan diri-Nya dalam daging” (Allahu lam yarahu ahadun qathu fi lahutihi, wa lakinahu lamma tajjasad, lamma thahara bi al-jasad).

Melalui Firman-Nya Allah dikenal, ibarat seseorang mengenal diri kita setelah kita menyatakan diri dengan kata-kata kita sendiri. Jadi, sebagaimana kata-kata seseorang yang keluar dari pikiran seseorang mengungkapkan identitas diri, begitu Allah menyatakan Diri-Nya melalui Firman-Nya. Inilah maka ungkapan dalam Qanun al-Iman (Syahadat Nikea/Konstantinopel tahun 325/381), yang mengatakan bahwa Putra Allah yang Tunggal telah “lahir dari Sang Bapa sebelum segala zaman” (Arab: al-maulud min al-Abi qabla kulli duhur). Adakah di dunia ini seseorang yang dilahirkan dari Bapa? Jawabnya, tentu saja tidak ada! Setiap orang lahir dari ibu. Karena itu, Yesus disebut Putra Allah jelas bukan kelahiran fisik, tetapi kelahiran ilahi-Nya sebagai Firman yang kekal sebelum segala zaman.

Tetapi bukankah secara manusia Yesus dilahirkan oleh Bunda Maria? Betul, itulah makna kelahiran-Nya yang kedua dalam daging. Mengenai misteri ini, Bapa-bapa gereja merumuskan2 makna kelahiran (wiladah) Kristus itu, seperti dirumuskan dalam ungkapan yang indah:

As-Sayid al-Masih lahu miladain: Miladi azali min Ab bi ghayr umm qabla kulli ad-duhur, wa miladi akhara fi mal’i al-zamaan min umm bi ghayr ab.

Artinya: “Junjungan kita al-Masih mempunyai dua kelahiran: Kelahiran kekal-Nya dari Bapa tanpa seorang ibu, dan kelahiran-Nya dalam keterbatasan zaman dari ibu tanpa seorang bapa insani’.

“Lahir dari Bapa tanpa seorang ibu”, menunjuk kepada kelahiran kekal Firman Allah dari Wujud Allah. Tanpa seorang ibu, untuk menekankan bahwa kelahiran itu tidak terjadi dalam ruang dan waktu yang terbatas, bukan kelahiran jasadi (bi ghayr jasadin) melalui seorang ibu, karena memang “Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan”. Jadi, dalam hal ini Iman Kristen bisa sepenuhnya menerima dalil al-Qur’an: Lam Yalid wa Lam Yulad, karena memang tidak bertabrakan dengan makna teologis gelar Yesus sebagai Putra Allah.

Sebaliknya, “Lahir dari ibu tanpa bapa”, menekankan bahwa secara manusia Yesus dilahirkan dalam ruang dan waktu yang terbatas. Meskipun demikian, karena Yesus bukan manusia biasa seperti kita, melainkan Firman yang menjadi manusia, maka kelahiran fisik-Nya ditandai dengan mukjizat tanpa perantaraan seorang ayah insani. Kelahiran-Nya yang kedua ke dunia karena kuasa Roh Allah ini, menyaksikan dan meneguhkan kelahiran kekal-Nya “sebelum segala abad”. Dan karena Dia dikandung oleh kuasa Roh Kudus, maka Yesus dilahirkan oleh Sayidatina Maryam al-Adzra’ (Bunda Perawan Maria) tanpa seorang ayah.

Dari deskripsi di atas, jelaslah bahwa ajaran Tritunggal sama sekali tidak berbicara tentang ilah-ilah selain Allah. Ajaran rasuli ini justru mengungkapkan misteri keesaan Allah berkat pewahyuan diri-Nya dalam Kristus, Penyelamat Dunia. Dalam Allah (Sang Bapa), selalu berdiam secara kekal Firman-Nya (Sang Putra) dan Roh Kudus-Nya. Kalau Putra Allah berarti Pikiran Allah dan Sabda-Nya, maka Roh Kudus adalah Roh Allah sendiri, yaitu hidup Allah yang abadi. Bukan Malaikat Jibril seperti yang sering dituduhkan beberapa orang Muslim selama ini. Firman Allah dan Roh Allah tersebut bukan berdiri di luar Allah, melainkan berada dalam Allah dari kekal sampai kekal.

Jadi, jelaslah bahwa Iman Kristen tidak menganut ajaran sesat yang diserang oleh al-Qur’an, bahwa Allah itu beranak dan diperanakkan. Untuk memahami Iman Kristen mengenai Firman Allah yang nuzul (turun) menjadi manusia ini, umat Islam hendaknya membandingkan dengan turunnya al-Qur’an alam Allah (nuzul al-Qur’an). Kaum Muslim Suni (Ahl l-Sunnah wa al-Jama’ah) juga meyakini keabadian al-Qur’an sebagai kalam nafsi (Sabda Allah yang kekal) yang berdiri pada Dzat-Nya, tetapi serentak juga terikat oleh ruang dan waktu, yaitu sebagai kalam lafdzi (Sabda Tuhan yang temporal) dalam bentuk mushaf al-Qur’an dalam bahasa Arab yang serba terbatas tersebut.

Dan sperti fisik kemanusiaan Yesus yang terikat ruang dan waktu, yang “dibunuh dalam keadaannya sebagai manusia” (1 Petrus 3:18), begitu juga mushaf al-Qur’an bisa rusak dan hancur. Tetapi Kalam Allah tidak bisa rusak bersama rusaknya kertas al-Qur’an. Demikianlah Iman Kristen memahami kematian Yesus, kematian-Nya tidak berarti kematian Allah, karena Allah tidak bisa mati. Saya kemukakan data-data paralelisasi ini bukan untuk mencocok-cocokkan dengan Ilmu Kalam Islam. Mengapa? Sebab justru seperti sudah saya tulis di atas, pergulatan Islam mengenai Ilmu Kalam dirumuskan setelah teolog-teolog Kristen Arab, menerjemahkan istilah-istilah teologis dari bahasa Yunani dan Aram ke dalam bahasa Arab.

Akhirul Kalam, semoga tulisan ini semakin merangsang pembaca untuk meng-gumuli teologi kontekstual yang mendesak dibutuhkan gereja-gereja di Indonesia, khususnya dalam merentas jalan menuju dialog teologis dengan Islam. Bukankah dialog teologis Kristen-Islam selama ini sering mengalami kebuntuan, karena “kesenjangan bahasa teologis” antara keduanya, akibat tajamnya pengkutuban Barat-Timur selama ini? Marilah kita realisasikan pesan rasuli, supaya kita siap sedia segala waktu “untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu….” (1 Petrus 3:15), dan bukan malah menghabiskan energi kita untuk mengurusi “kelompok-kelompok kurang cerdas yang suka bikin onar” itu.

LATAR BELAKANG RASUL PAULUS:

Rasul Paulus orang Ibrani asli dan dengan latar belakang aliran paling keras, yaitu golongan Farisi. Hal ini bukan hanya memberi dampak yang mendalam atasnya, tapi juga memberi kebanggaan yang besar. Ia telah mendapat pelajaran dari Gamaliel yang masyhur itu, dan telah berkembang lebih maju daripada kebanyakan temannya sezaman dalam soal agama Yahudi. (Kisah 26:5). Dengan demikian jelaslah bahwa Paulus adalah seorang yang menganut Monoteisme yang menyembah Allah Israel satu-satunya yang dikenal dengan YHVH ELOHIM.

Sebagai Yahudi, Paulus kuat kepercayaannya kepada Allah yang satu dan benar. Lebih dari itu ia memiliki keyakinan tentang kekudusan Allah. Dalam agama Yahudi kepercayaan ini memimpin kepada transendentalisme, tapi dalam teologia Kristen, Paulus tidak ada persoalan tentang Allah yang jauh. Allah didekatkan di dalam Yesus Kristus. Tapi tidak dapat diragukan bahwa bagi konsepsinya yang mulia tentang Allah, Paulus banyak berhutang kepada warisan Yahudinya :

* Roma 3:30
“Artinya, kalau ada satu Allah, yang akan membenarkan baik orang-orang bersunat karena iman, maupun orang-orang tak bersunat juga karena iman.”

* 1 Korintus 8:4
“Tentang hal makan daging persembahan berhala kita tahu: “tidak ada berhala di dunia dan tidak ada Allah lain dari pada Allah yang esa.”

* 1 Korintus 8:6
“namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.”

* Galatia 3:20
“Seorang pengantara bukan hanya mewakili satu orang saja, sedangkan Allah adalah satu.”

Pandangan Paulus tentang Allah dipengaruhi sekali oleh Perjanjian Lama dan oleh kepercayaan Yahudi yang konsekuen. Pandangan itu pada hakekatnya juga sama dengan yang terdapat dalam ajaran Yesus. Pandangannya tentang Allah tinggi, tapi ia tidak mengikuti kesalahan orang Yahudi sezamannya, yang menjadikan Allah jauh sekali (transendentalisme). Konsepnya tentang Allah dikuasai oleh gagasan tentang kasih karunia, yaitu kebaikan Allah yang bukan berdasarkan kelayakan manusia. Paulus tidak pernah dapat melepaskan diri dari gagasan, bahwa seluruh proses keselamatan itu adalah inisiatif Allah dan tidak tergantung pada usaha manusia. Ia tahu benar kasih Allah di dalam Kristus dan tidak pernah jemu untuk mengucapkan hal itu.

Yesus Kristus sendiri senantiasa berpatokan kepada Perjanjian Lama sedangkan monotheisme adalah dasar dan inti Perjanjian Lama. Klimaks Perjanjian Lama adalah Allah sendiri yang telah turun ke bumi untuk melaksanakan penyelamatan dunia dalam rupa Mesias yang ilahi, Manusia Ilahi :

* 1 Timotius 3:16,
LAI TB, Dan sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita: “Dia (naskah Yunani: Allah (theos)), yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia, dibenarkan dalam Roh; yang menampakkan diri-Nya kepada malaikat-malaikat, diberitakan di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah; yang dipercayai di dalam dunia, diangkat dalam kemuliaan.
KJV, And without controversy great is the mystery of godliness: God was manifested in the flesh, Justified in the Spirit, Seen by angels, Preached among the Gentiles, Believed on in the world, Received up in glory
TR, και ομολογουμενως μεγα εστιν το της ευσεβειας μυστηριον θεος εφανερωθη εν σαρκι εδικαιωθη εν πνευματι ωφθη αγγελοις εκηρυχθη εν εθνεσιν επιστευθη εν κοσμω ανεληφθη εν δοξη
Translit. interlinear, kai {adapun} homologoumenôs {yang harus diakui (siapapun)} mega {besar} estin {adalah} to tês {(itu)} eusebeias {ibadah} mustêrion {rahasia:} theos {Allah } ephanerôthê {Dia dinyatakan} en {dalam} sarki {daging,} edikaiôthê {terbukti benar /dibebaskan} en {oleh [dalam]} pneumati {Roh (Kudus)/ Roh-Nya,} ôphthê {dilihat} aggelois {oleh malaikat-malaikat,} ekêrukhthê {diberitakan} en {diantara} ethnesin {bangsa-bangsa (bukan Yahudi),} episteuthê {dipercayai} en {didalam} kosmô {dunia,} anelêphthê {diangkat} en {ke dalam/ dengan} doxê {kemuliaan.}

Mengenal nama Allah adalah sesuatu yang penting. Namun hendaklah kita senantiasa bijaksana. Terjemahan TANAKH yang tertua yaitu SEPTUAGINTA menterjemahkan kata Ibrani “ אלהים – ‘ELOHIM” yang sepadan dengan kata Yunani “θεος – THEOS“. Sebuah kata yang juga digunakan oleh orang-orang diluar Kristus, orang non Yahudi kalangan pagan dalam menyebut sesembahannya. Namun secara jelas “θεος – THEOS” adalah gelar bagi Yesus Kristus juga sebuah sebutan bagi Bapa kita. Kata “θεος – THEOS” bertebaran dalam naskah bahasa Asli Perjanjian Baru, dari kata “θεος – THEOS” ini diperkenalkan kemurahan Allah kita yang telah menawarkan keselamatan bagi siapa saja yang percaya kepadaNya :

* Yohanes 3:16
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

TR, ουτως γαρ ηγαπησεν ο θεος τον κοσμον ωστε τον υιον αυτου τον μονογενη εδωκεν ινα πας ο πιστευων εις αυτον μη αποληται αλλ εχη ζωην αιωνιον
Translit., Interlinear, houtôs {demikianlah} gar {harena} êgapêsen {mengasihi} ho theos {Allah} ton kosmon {(manusia di) dunia} hôste {sehingga} ton huion{anak} autou {-Nya} ton monogenê {yang tunggal/ yang unik} edôken {Ia telah memberikan} hina {supaya} pas {setiap (orang yang)} ho pisteuôn {percaya} eis {kepada} auton {Dia} mê {tidak} apolêtai {menjadi binasa} all {melainkan} ekhê {beroleh} zôên {hidup} aiônion {kekal}

Rasul Paulus sangat mengerti bahasa-bahasa, sebagai seorang Ibrani, ia berbahasa Ibrani, sebagai seorang intelektual dan seorang filsuf, ia juga berbahasa Yunani, sebagai seorang warga negara Roma iapun berbahasa latin. Dan sebagai seorang dengan latar belakang Farisi tentu saja sangat mengenal siapa itu YHVH ELOHIM. Namun dari kisah yang dicatat dalam Kitab Kisah Para Rasul 17:16-34 ini dengan jelas menulis bahwa ia tidak memaksakan istilah Ibrani “YHVH” ataupun istilah ‘ELOHIM, sebaliknya ia dengan luwes menggunakan nama “ilah asing” sebagai Allah yang disembahnya.

Dalam pertobatannya Rasul Paulus juga sangat mengenal pribadi Yesus Kristus dan ia mendapat wahyu khusus dari Kristus (1 Korintus 15:8; Galatia 1:15-16; bandingkan: Galatia 9:1). Yesus Kristus lah yang menjadi pusat dari pemberitaannya dalam menginjil. Sebagaimana kemurahan Allah dalam Yesus Kristus dinyatakan bagi semua bangsa. Di dalam wahyu khusus Kristus itu Paulus sekaligus dipanggil menjadi rasul orang kafir/ non Yahudi/ kaum Goyim (bandingkan Roma 15:15-16; Galatia 2:7). Sehingga pemakaian bahasa tertentu, atau panggilan sesembahan dengan dialek tertentu tidak lagi terlalu penting.

Image

Yesus Kristus, universal!

Image

Nama Yesus yang aslinya dalam bahasa Ibrani lazimnya dipanggil dengan “ יהושע – YEHÕSYÛA’” juga dipanggil dengan “ ישוע – YESYÛA’” (dalam dialek Ibrani-Aramaik); kemudian ditransliterasikan dalam bahasa Yunani menjadi “ιησους – IESOUS“, Dalam bahasa Inggris namaNya dikenal dengan JESUS, orang Chinese mengenalnya dengan YESU, dan kita yang behasa indonesia mengenalnya dengan nama YESUS, dan masih banyak pelafalan namaNya dalam bahasa-bahasa dan dialek-dialek yang lain.

Adanya terjemahan TANAKH dalam SEPTUAGINTA yang sudah ada 3 abad sebelum era Yesus Kristus, dan kemudian Alkitab Perjanjian Baru kita ditulis dalam bahasa non Yahudi, adalah suatu isyarat bahwa Allah yang kita sembah, tidak mementingkan ‘bahasa tertentu’ dalam mengenal namaNya.

Mengenal Diri Kita Sendiri

Saat kita ditanya, apakah kita ingin memperbaiki diri, kita pasti menjawab iya. Kita ingin menjadi lebih baik, lebih bahagia, lebih sehat, lebih kaya, lebih shaleh, pokoknya lebihlah. Tetapi apa yang terjadi? Dari beberapa survey, orang yang menuliskan tujuannya masih dibawah 5%, padahal tujuan merupakan arah saat kita akan menuju keadaan yang lebih baik. Tujuan seperti peta disaat Anda melakukan perjalanan jauh.

Adalah terlalu sombong jika kita merasa bahwa kita bisa berjalan sepanjang puluhan tahun ke depan, tanpa petunjuk yang jelas. Padahal ketidak pastian begitu banyak didepan kita, ibarat jalan yang bercabang yang bisa membingungkan kita saat kita menempuh perjalanan.

Suatu peta akan bermanfaat saat kita tahu posisi kita. Peta menjadi tidak berguna jika kita tidak mengetahui posisi kita. Jadi kita harus tahu ada dimana dan kita akan kemana, yang akan membuat perjalanan kita makin lancar dan jelas serta cepat.

Mengetahui posisi diri tiada lain adalah mengenal diri sendiri. Baik mengenal kecerdasan Anda, bakat, hobi, watak atau sikap dominan Anda, dan tidak lupa lingkungan terdekat kita. Sebenarnya masih banyak aspek yang perlu kita kenali, semakin banyak yang kita kenali tentang diri sendiri akan semakin baik.

Kita akan melihat, dengan mengenal diri sendiri kita akan sadar akan segala keterbatasan kita dihadapan Allah sehingga membuat kita tidak menjadi orang yang takabur. Di sisi lain kita juga akan sadar bahwa Allah telah memberikan potensi yang tak terhingga pada diri kita untuk mengarungi kehidupan di dunia ini.

Setelah kita mengenal potensi diri kita, kemudian kita akan mengoptimalkan potensi yang kita miliki. Selain itu kita pun akan tahu potensi apa saja yang belum muncul sehingga kita akan terus menggali berbagai potensi yang belum nampak tersebut. Jika dua hal ini kita lakukan, kita akan menjadi manusia yang bermanfaat di muka bumi ini, insya Allah.

Dengan mengenal diri sendiri kitapun lebih mudah untuk melakukan berbagai perbaikan pada diri sendiri. Kita akan tahu apa yang kurang dan apa yang sudah cukup. Kita akan melakukan perbaikan lebih terarah dan efektif. Perbaikan diri kita pada berbagai aspek bukan hanya untuk mempersiapkan bekal hari esok, termasuk bekal kita di hari akhir nanti.

Mulailah bertafakur tentang diri kita, analisa berbagai aspek tentang kita sedalam dan sejelas mungkin, sehingga kita mengenal siapa kita. Manfaatkan nasihat dan kritik orang lain sebagai umpan balik untuk melihat kekurangan kita. Ketimbang tersinggung dengan ejekan dan kritikan, akan lebih baik jika kita malah mengambil manfaatnya. Kadang ejekan dari musuh lebih jujur dari pada pujian seorang teman. Tapi bukan berarti kita harus punya musuh.

Jangan Siksa Diri Sendiri

..Salah satu siksaan terberat adalah mengekspresikan dan mengaktualisasikan diri sesuai kata hati..!”. Benar apa tidak? Mari runut ulasan ini.
Seringkali kita harus keluar dari sebuah konsep kejujuran hanya karena mengekspresikan dan mengaktualisasikan diri sesuai tatanan etis di lingkungan kita. banyak bukti, Si Fulan takut tidak diterima di komunitas bergaulnya hanya karena terlanjur demam dangdut. Si Mince terpaksa harus jalan merunduk di mana-mana saat ketahuan berprofesi sebagai perempuan panggilan. Si Badu menutupi diri dari pegaulan hanya karena tidak bisa main bola. Si Sarimin harus main kucing-kucingan dari sahabat-sahabatnya karena dia tak bisa ikut ngedrugs bareng. Si Anu tak pernah mau membahas segala hal berbau IT karena dia gatek (gagap teknologi). Dan banyak lagi kasus seperti ini, intinya terpaksa berbohong dan berbohong. Sebuah hukuman tanpa ada vonis terlebih dahulu yang ternyata kita sendiri yang telah membawa diri kita ke kondisi itu.
Padahal, waktu akan membawa kita pada situasi yang mungkin terbalik dari kondisi yang kita temui sekarang, menyangkut pengaktualisasian diri yang tak jujur ini. Tengoklah, dulu cowok-cowok dibilang banci dan kuper jikalau memiliki hobbi membaca. Tapi kenapa kemarin-kemarin saat “Ada Apa Dengan Cinta” booming, semua pada bawa-bawa buku di ajang gaulnya???Semua mengaktualisasikan Rangga-Rangga baru dalam keseharian mereka. Itu bagian dari trend, katanya. Tengok lagi Era lagu lagu bernuansa Melayu negeri jiran “Malaysia” merajai pasaran Indonesia? Semua melantunkan “Gerimis Mengundang, Rindu Serindu-Rindunya, dan banyak lagi” tanpa ada perasaan sungkan. Nah sekarang setiap ada tembang Malaysia diputar, semua bilang “iih norak…!!!” Pada ke mana Malaysianers dulu?Pada raib? Atau tengok lagi Cowok-cowok jaman sekarang yang suka tampil semi culun ala Afgan, yang katanya dulu terkesan kampungan dan norak sekali??? Ada apa sebenarnya!?? Ini tak lebih dari kebohongan-kebohongan yang didramatisir saja, terlalu pengecut untuk berekspresi jujur. Itu isinya…
Pertanyaannya sekarang, apa yang kita takutkan untuk jujur dan apa adanya!?? Hukuman seperti apa sih yang diberikan oleh lingkungan jika kita mengaktualisasikan diri dengan jujur?Dipenjarakankah?dibantaikah? atau diapalah? Kenapa melupakan “Gerimis Mengundang atau Rindu Serindu-Rindunya” setelah dulu selalu kita nyanyikan sampai di toilet sekalipun? Kenapa harus takut dibilang dangduters saat soul of music kita adalah dangdut?Kenapa lagi, takut terkesan culun jika kita nyaman dengan perform seperti itu?Dan kenapa kita takut dikatai banci karena kita ini kutu buku?Toh hobbi baca bukan hak mutlak kaum wanita saja kok? Kita juga berhak penuh,secara juga penuh manfaat, pun bisa jadi tren kan??
Kembali ke yang tadi, banyak yang merasa tersiksa hanya karena sulit berekspresi dan pengaktualisasian diri dengan jujur adalah suatu hal yang berat jika lingkungan frontal dengan hal tersebut. Memang berat sih, tapi bukan berarti tidak bisa. Pasti bisa, dan jika mau tak sulit lah, untuk hal-hal yang masih etis dan wajar apalagi?Mungkin sulit sekali jika kita harus mengakui secara jujur jika kita penyuka sesama jenis, kita punya kebiasaan klepto, atau mungkin kita seorang yang menganut freeseks, atau mungkin juga kita adalah korban kriminal seksual, hamil diluar nikah?(dan saya tidak menganjurkan untuk blak-blakan untuk kawasan privat ini), ada pengecualianlah. Tapi untuk item-item yang masih boleh dibilang wajar? Kenapa harus takut?Rugi, banyak ruginya…Di diri kita, kehilangan akses untuk maju, ketinggalan kereta dalam banyak hal, tidak merasakan kenyamanan menjalani hidup karena terus-terusan membohongi diri sendiri…ini berat lho…
Ketika kita terus-terusan mengikuti pola di lingkungan yang stak di titik tadi, niscaya banyak hal yang akan kita tanggung sebagai konsekwensi ketidakberanian kita untuk jujur dan berlaku apa adanya.Banyak hal positif yang intinya bermanfaat akan hilang dari diri kita; kepribadian, karakter, dan bahkan prinsip. Mengenyampingkan hal-hal yang prinsipil itu akan berbuah penyesalan lho…Itu pasti,suatu saat pasti akan sampai ke titik ini. Dan saat itu kita mungkin akan menangis darah menyesali kebodohan kita. Siksaan dua kali lipat mungkin dari yang kita rasakan sebelumnya. Kenapa tidak!??
Percuma kita memperjuangkan kebohongan yang niscaya hanya berlaku sesaat. Toh, jaman selalu memiliki teka-teki. Sesuatu hal yang dipandang aneh sekarang bisa jadi suatu hal yang lumrah di kali lain,buktinya kan sudah banyak? Dan yang tidak wajar itu toh jadi sangat wajar, malahan ngetren di masa yang berbeda. Sementara ketika dulu kita menolak untuk jujur berekspresi jujur, banyak hal yang terpaksa harus kita kesampingkan yang intinya membuat kita tidak nyaman dan malahan mungkin rugi besar. Kenapa tidak berani jujur dan apa adanya?Selagi kata hati menuntut begitu? Apa kita akan selalu mengurut dada dalam kesendirian sebelum tidur, hanya karena tidak nyaman karena membohongi diri sendiri? Yang pasti lingkungan akan menerima setiap kejujuran, keberanian mengekspresikan dan mengaktualisasikan diri secara jujur itu tadi. Pasti akan sampai ke titik tersebut. Jadi sekarang saatnya, campakkan prinsip yang tak berdasar itu, buang jauh-jauh semua kebohongan-kebohongan itu jika kita ingin merasakan kesejatian yang hakiki.Toh diri kita, kita sendiri yang tahu, ketawa kita hanya akan terbentuk dari bibir kita sendiri, tangis kita hanya akan jatuh dari kelopak mata kita sendiri, bukan orang lain. Tunggu apa lagi!??

siapakahdirikita

2 Tanggapan to “DIRI KITA”

  1. jelekkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk sekaliiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii wahyu12

  2. gom_loh
    coomunity
    adalah kelompok
    anak kp.baru
    nama nama anak anak gom_loh coomunity
    amin.nullah ketua gom_loh coomunity agung_randi_didi_rando_awen_yogi_pikri_jimi_yanda_rijal_zuiskar_ ini lah kelompo gom_loh coomunity (tgl.29 mar) tahun 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: